Kamis, 08 April 2010

PERANAN MOTIVASI DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN

Pengajaran efektif adalah pengajaran yang dapat mengembangkan motivasi siswa dalam belajar semaksimal mungkin. Aspek penting dalam pengajaran antara lain : guru, materi, metode, media, dan penilaian.
MOTIVASI DAN SIKAP GURU
1. Guru sebagai model
Menurut Bandura dan Walters (1963) cirri-ciri orang yang menjadi model antara lain :
- Memiliki kedudukan atau pengaruh
- Memiliki status yang tinggi
- Memiliki wibawa dan kemampuan serta mempunyai kekuasaan untuk memberikan penghargaan
Rohrkemper (1984) mengatakan :
Siswa lebih mencontoh apa yang “dikerjakan” dan apa yang “dikatakan “ guru.
Menurut Tanner dan Lindgrean (1971) pengaruh guru terhadap tingkah laku dan aktivitas belajar siswa sebagai berikut :
“The teacher is most powerful in the classroom, psychologically speaking. His ability to reward and punish is usually grater than that of any individual in the room. He sets the pace, he takes the intiative, or rather, the initiative is his if he wants it. The teacher’s power is such that even when he does nothing to the class. He even has an effect on the class when he is not present.”
2. Unidemensional Classroom kontra Multidimensional Classroom.

Siswa yang memiliki self-concept yang positif adalah siswa yang yakin bahwa ia mencapai prestasi melalui usaha, menunjukkan kemandirian dalam belajar dan tidak mudah menyerah (Rosenhaltz dan Simpson, 1984). Menurut mereka guru yang mengembangkan di dalam kelasnya satu standar untuk sukses yaitu cerdas. Guru yang mengembangkan standar untuk sukses sehingga menimbulkan suasana kelas yang disebut “Unidemensional Classroom”.
“Multidimensional Classroom” yaitu guru yang selalu menyampaikan kepada siswa bahwa banyak cara mencapai sukses dan kesuksesan tergantung kepada sampai berapa banyak usaha belajar yang telah dilakukannya.

3. Sikap Guru Terhadap Tingkah Laku Siswa

Menurut Yenkin dan Deno, 1969, Klein, 1971; Brophy dan Everstzon, 1981 mengemukakan bahwa : Guru yang baik tidak mudah terpengaruh oleh sikap atau tingkah laku siswanya. Artinya guru mengajar tidak mengikuti tingkah laku siswanya.


4. Sikap Guru Terhadap Karakteristik Siswa

Menurut Friedman (1973) bahwa perlakuan guru terhadap siswa yang berasal dari golongan ekonomi tinggi berbeda dengan siswa dari golongan ekonomi rendah. Dan menurut Rist (1970) ada guru yang berangapan bahwa siswa yang berasal dari ekonomi rendah sangat lambat belajarnya. Sedangkan ekonomi tinggi lebih cepat.

5. Sikap Guru Terhadap Siswa Yang Berbeda Jenis Kelamin

Guru “Stereotype” adalah guru yang mempunyai anggapan bahwa siswa pria lebih baik belajarnya dibandingkan dengan siswa wanita dan sebaliknya siswa wanita lebih baik bealajarnya dari siswa pria. Dengan alas an siswa pria lebih kreatif, mandiri, berprestasi tinggi, gigih, percaya diri sedangkan siswa wanita lebih pasif dan tidak mandiri.
Siswa yang memiliki self concept negative cenderung mempunyai motivasi yang negative pula (Lecky, 1945, Hamacheck, 1960; Black, 1974 dan Lebeton 1975.Tetapi menurut Brophy dan Evertson (1981) guru mengangap murid wanita lebih matang , lebih berprestasi dan menarik hati guru, sedangkan siswa pria lebih banyak mengkritik. Sebenarnya mereka memiliki potensi belajar yang sama (Doyle, Hancock dan Kefer, 1972).
Untuk menghindari stereotype yang dimiliki siswa, maka menurut Shapiro, Kramer, dan Hunerberg pedomannya antara lain :
a. Menolong siswa untuk lebih menyadari stereotype tentang jenis kelamin berpengaruh tidak baik dalam sikap, atau tingkah laku dan cara berpikir siswa.
b. Berusaha merubah praktek-praktek sekolah yang memupuk stereotype tentang perbedaan jenis kelamin. Perubahan itu antara lain :
1. Pengaturan tempat duduk siswa
2. Tidak memberikan tugas-tugas belajar yang berdasarkan jenis kelamin
3. Dalam mengembangkan disiplin, ungkapan-uakapan guru yang memupuk stereotype hendaklah dihindari.
4. Jangan menimbulkan persaingan dalam belajar antara jenis kelamin.
c. Menolong siswa untuk memisahkan dengan tajam bidang-bidang karier sesuai dengan jenis kelamin.
Sikap Guru Terhadap Siswa Dengan Latar Belakang Kebudayaan Yang Berbeda.
Guru perlu benar-benar memahami tentang bagaimana perbedaan kebudayaan dapat menyebabkan seorang guru salah menginterpretsikan tingkah laku siswa dari kebudayaan lain. Penting sekali bagi guru yang berinteraksi dengan siswa-siswa dari kebudayaan yang berbeda mempelajari kebudayaan dari mana siswa-siswanya berasal, dan mencoba mengerti bagaimana pengaruh kebudayaan asal itu terhadap tingkah laku siswa.
Sikap Guru Terhadap Perbedaan Prestasi Siswa
Sikap guru yang kurang mengembangkan aktifitas belajar secara maksimal adalah melakukan interaksi yang berbeda tearhadap siswa-siswa yang berbeda prestasinya.Guru harus memperhatikan siswa-siswa yang berprestasi rendah agar mereka lebih termotivasi dalam belajar.
Motivasi Dan Metode Mengajar.
Guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa adalah mewujudkan prosedur mengajar yang dapat melibatkan sepenuhnya siswa di dalam proses belajar. Menurut Bruse Joyce dan Marsha Weil (1986) mengemukakan berbagai model mengajar yang dapat melibatkan siswa baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dalam belajar.
Ada 4 kelompok model mengajar yaitu :
1. Model Information Prosessing
Bertujuan untuk meningkatkan keinginan memahami dunia dengan cara mengajarkan kepada mereka cara-cara dan mengorganisasi data, melatih mereka untuk terampil menggunakan berbagai konsep dan terampil menggunakan bahasa.
Model-model mengajar nya :
a. Inductive Thinking Model
b. Inquiry Training Model
c. Advance Organizers Model
d. Memorization Model
e. The Developing Intelect Model
f. Scientific Inquiry Model

2. Model Personal
Bertujuan untuk mengembangkan kedirian (selfhood) siswa.
Model-model mengajarnya :
a. Nondirective Model
b. Synetic Model
c. Awarenness Training Model
d. The Classroom Meeting Model

3. The Social Model.
Model-model mengajarnya :
a. Group Investigation Model
b. Role Playing Model
c. Juriprudential Model
d. Laboratory Training Model
e. Social Science Inquiry Model

4. Model Behavioral System.
Model-model mengajarnya :
a. Mastery Learning atau Director Instruction
b. Learning Self-Control Model
c. Training For Skill and Consept Development Model.
Motivasi dan Materi Pelajaran
Guru bertanggung jawab untuk menyediakan materi (fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip yang patut dipelajari siswa untuk mencapai tujuan belajar). Disamping itu guru harus mengorganisasikan materi pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa mudah dan senang mempelajarinya. (Skinner, 1968).
Menurut Abrani, Leventhal dan Perry, 1982 :
Jika materi pelajarn diorganisasikan dengan baik maka siswa akan berhasil dalam mengerjakan tes.
1. Memilih Materi Pelajaran

Menurut Gayne Dan Berline (1988) mengatakan :
Guru hendaknya mengetahui factor-faktor dalam memilih materi pelajaran untuk dipelajari siswa agar siswa tertarik untuk mempelajarinya.
a. Tingkat kemampuan siswa
b. Keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa
c. Tingkat kemenarikan bahan
d. Tingkat kebaruan dan aktualitas bahan
e. Tingkat perkembangan siswa

2. Mengorganisasikan Materi Pelajaran
Ada bermacam cara yang dapat dilakukan untuk mengorganisasikan materi pelajaran menurut Goyer (dalam Gayne dan Berliner ) sebagai berikut :
a. Pengorganisasian materi pelajaran berdasarkan “Hubungan Antara Komponen” (Component Relationship)
b. Pengorganisasian materi berdasarkan “Hubungan Urutan” (Sequential Relationship)
c. Pengorganisasian materi pelajaran berdasarkan “Hubungan yang Relevan” (Relevan Relationship)
d. Pengorganisasian materi berdasarkan “Hubungan Transisional” (Transitional Relationship)
Motivasi Dan Media Pengajaran.
1. Keuntungan Mempergunakan Media Pengajaran.

Menurut Heinich, Molenda dan Russel (1981) keuntungan-keuntungan mengunakan media pengajaran dalam membelajarkan siswa, yaitu :
a. Media pengajaran dapat mengkonkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalah pahaman siswa dalam mempelajarinya.
b. Media pengajaran dapat meningkatkan minat siswa untuk mempelajari materi pelajaran
c. Media pengajaran memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
d. Media pengajaran dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan
e. Media pengajaran menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah di dapat melalui materi-materi lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.
Menurut para ahli :
- Jerome Bruner (1965) mengemukakan :
Kalau dalam belajar siswa dapat diberi pengalaman langsung (melalui media, “field trip”, dramatisasi) maka situasi pengajaran akan meningkatkan kegairahan dan siswa tersebut dalam belajar.
- Fleming dan Levie (1978) mengatakan :
Media pengajaran memberikan pengalaman konkrit yang memudahkan siswa belajar, yaitu dalam mencapai penguasaan, mengingat dan memahami symbol-simbol yang abstrak.

2. Memilih Media Pengajaran

Menurut Heinich, Molenda dan Russel (1982) langkah-langkah perencanaan dan penggunaan media pengajaran yang efektif sebagai berikut :
a. Menganalisa karekteristik siswa.
Ada 2 karakteristik siswa yang diketahui guru yaitu :
1. Karakteristik umum yang meliputi jenis kelamin, tingkat, kelas, kemampuan intelektual, bakat dan kebudayaan.
2. Karakterisik khusus mengenai latar belakang pengalaman siswa tentang topic atau materi pelajaran yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya terhadap topic atau materi pelajaran yang akan disajikan.
b. Menetapkan tujuan pengajaran
c. Memilih, memodifikasi dan merencanakan materi pelajaran.
d. Menggunakan media pengajaran
e. Meminta respon siswa
f. Melakukan evaluasi
Motivasi Dan Penilaian.


1. Fungsi Penilaian dalam Meningkatkan Motivasi.
Penilaian yang direncanakan guru adalah untuk mendapatkan informasi tentang sampai seberapa jauh siswa sudah menguasai pelajaran dan pada bagian mana mereka belum meanguasainya serta untuk memberikan umpan balik bagi usaha peningkatan prestasi mereka selanjutnya, maka penilaian dapat meningkatkan kegairahan dalam usaha belajar siswa
2. Ciri-ciri penilaian yang baik.

Penilaian yang baik ialah penilaian itu terencana dan terkait erat dengan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang akan dicapai siswa selama proses belajar. Menurut Sounders (1969) penilaian dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar karena :
a. Penilaian mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi dengan alas an dilakukan berkali-kali dan siswa langsung dapat mengetahui dan membeikan komentar tentang penilaian yang di berikan kepadanya apakah cocok atau tidak.
b. Adanya kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri sehingga siswa dapat meningkatkan hasil penilaian.
c. Penilaian berkelanjutan lebih mementingkan usaha-usaha siswa bukan mementingkan hasil semata-mata.

3. Aspek dan Komentar Penilaian.

Pemberian angka dan komentar dalam kertas penilaian siswa sangat bermanfaat untuk mendorong siswa belajar lebih baik, karena siswa menyadari kesalahan-kesalahan dan keterbatasan apa yang telah mereka kerjakan dan mengetahui suatu yang baru dan benar.
Dalam memberikan komentar yang membangun motivasi belajar siswa maka hal-hal yang perlu dipertimbangkan yaitu :
a. Kemukakan dahulu dari sudut mana jawaban siswa yang benar.
b. Berilah kritikan yang simpatik, jangan mencela atau memojokkan siswa.
c. Guru harus menjelaskan dimana siswa dapat memperoleh jawaban yang benar.
Aspek-aspek yang terlibat dalam pelajaran yang meliputi sikap guru, metode pengajaran, materi pengajaran, dan penilaian hasil pengajaran sangat mempengaruhi minat dan kegairahan siswa dalam belajar.
Media pengajaran dapat berfungsi untuk menolong siswa belajar dengan minat dan kegairahan yang tinggi apabila media pengajaran itu dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik siswa, tujuan pengajaran, jenis materi pengajaran itu sendiri dan bentuk evaluasi pengajaran yang akan dilaksanakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar